NABIRE — Tak ada panggung, tak ada seremoni, apalagi pidato panjang. Senin pagi, 21 September 2026, di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang berhenti di lampu merah Pertigaan Pantai Nabire, sejumlah ibu-ibu berdiri membawa satu benda sederhana: masker.

Satu per satu masker dibagikan kepada pengendara ojek, sopir, mama-mama yang membonceng anak, hingga warga yang melintas. Gerakan sederhana itu menjadi bentuk kepedulian Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Nabire untuk melindungi masyarakat dari paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat menyelimuti wilayah Nabire dalam beberapa hari terakhir.

Wakil Ketua TP PKK Nabire, Hj. Irawati Burhanuddin Pawennari, turun langsung bersama jajaran TP PKK. Ia menyapa warga sembari menyerahkan masker, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan ketika kualitas udara belum sepenuhnya dapat dipastikan.

“Bersyukur hari ini cuaca Nabire cukup cerah. Namun, kami tetap mengantisipasi asap akibat kebakaran hutan dan lahan beberapa waktu lalu. Sebenarnya, dari kemarin-kemarin kami sudah ingin bergerak,” ujarnya.

Pagi itu, langit Nabire memang terlihat lebih bersahabat. Namun, membaiknya cuaca tidak serta-merta membuat kewaspadaan berakhir. Bagi Irawati, kondisi tersebut justru menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat agar tetap berhati-hati.

Terutama bagi orang tua yang memiliki anak kecil.

“Kalau cuaca kurang baik, tidak perlu keluar rumah kalau tidak ada keperluan yang penting, apalagi membawa anak-anak,” imbaunya.

Pesan itu disampaikan bukan tanpa alasan. Asap kebakaran hutan dan lahan dapat memengaruhi kualitas udara dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama gangguan pada saluran pernapasan.

Karena itu, pembagian masker menjadi bagian dari upaya sederhana untuk mengurangi risiko paparan asap kepada masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah.

Memastikan Kondisi di Lapangan

Sebelum turun membagikan masker, Irawati bersama Wakil Bupati Nabire, H. Burhanuddin Pawennari, terlebih dahulu memantau kondisi sejumlah wilayah.

Sehari sebelumnya, keduanya menyusuri wilayah mulai dari Lagari, Makimi hingga Wanggar. Pemantauan dilakukan untuk melihat secara langsung perkembangan cuaca dan kondisi lingkungan setelah beberapa hari wilayah Nabire terdampak asap.

“Kemarin kami sudah berjalan ke Lagari, dari ujung sampai ke bagian Wanggar. Kami bersama Bapak Wakil Bupati melihat kondisi cuaca. Ternyata cuaca semakin membaik,” katanya.

Kondisi yang berangsur membaik menjadi kabar baik bagi masyarakat. Namun, bagi TP PKK Nabire, kewaspadaan tetap harus dijaga.

Apalagi kelompok rentan seperti anak-anak membutuhkan perlindungan lebih ketika kualitas udara terganggu.

“Ini semua kami lakukan untuk menjaga kesehatan masyarakat Kabupaten Nabire dari penyakit akibat asap, utamanya ISPA,” tegas Irawati.

Sebuah Masker, Sebuah Pesan

Di tengah lalu lintas yang terus bergerak, aksi ibu-ibu PKK itu mungkin terlihat sederhana. Hanya membagikan masker di persimpangan jalan.

Namun, bagi warga yang menerima, selembar masker tersebut membawa pesan yang jauh lebih besar: ada perhatian terhadap kesehatan mereka.

Masker itu bukan sekadar pelindung wajah dari asap. Ia menjadi pengingat agar warga tidak mengabaikan kondisi udara dan tetap menjaga kesehatan diri serta keluarga.

Harapannya pun sederhana. Langit Nabire kembali benar-benar bersih. Udara kembali nyaman dihirup. Dan anak-anak dapat kembali bermain serta beraktivitas di luar rumah tanpa harus khawatir dengan kepungan asap.

Pagi itu, di sebuah lampu merah di Pantai Nabire, kepedulian hadir dengan cara yang sangat sederhana—selembar masker, uluran tangan, dan pesan seorang ibu kepada masyarakat: jaga kesehatan, lindungi keluarga, dan tetap waspada. (amd)