NABIRE – Kabut asap tebal yang menyelimuti wilayah Nabire mulai berdampak langsung terhadap aktivitas belajar anak-anak. TK Bustanul Athfal Yapis Nabire mengambil langkah antisipasi dengan membatasi waktu pembelajaran hingga pukul 09.30 WIT demi menjaga kesehatan para peserta didik.

Pihak sekolah menyampaikan imbauan kepada seluruh orang tua murid agar menjemput anak-anak mereka pada pukul 09.30. Kebijakan tersebut diambil karena kondisi kabut asap yang dinilai cukup tebal, sehingga anak-anak untuk sementara tidak diperbolehkan bermain maupun melakukan aktivitas di luar halaman sekolah.

Melalui pengumuman kepada orang tua murid, pihak sekolah meminta agar seluruh orang tua memperhatikan kebijakan tersebut demi kesehatan anak masing-masing.

“Untuk proses pembelajaran anak-anak mulai hari ini sampai pukul 09.30. Mohon anak-anak dijemput pukul 09.30 karena anak-anak tidak boleh bermain di luar halaman terlebih dahulu berhubung kondisi asap sangat tebal,” demikian imbauan pihak TK Bustanul Athfal Yapis Nabire.

Pihak sekolah menjelaskan, pembelajaran akan kembali dilaksanakan secara normal apabila kondisi kabut asap sudah membaik dan dinilai aman bagi anak-anak.

Langkah yang dilakukan TK Bustanul Athfal Yapis Nabire tersebut sejalan dengan imbauan Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire yang meminta satuan pendidikan menyesuaikan kegiatan belajar mengajar dengan kondisi kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Dinas Pendidikan sebelumnya mengimbau sekolah yang terdampak asap untuk melaksanakan pembelajaran daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) apabila kondisi tidak memungkinkan untuk tatap muka.

Sedangkan sekolah yang masih memungkinkan melaksanakan pembelajaran tatap muka dapat mengurangi waktu setiap Jam Pelajaran (JP) sebanyak 10 menit. Kegiatan ekstrakurikuler, khususnya yang dilaksanakan di luar ruangan, juga diminta untuk sementara ditiadakan.

Kepala sekolah di seluruh Nabire juga diminta terus memantau kondisi kabut asap dan kesehatan peserta didik, guru serta tenaga kependidikan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kabut asap Karhutla bukan hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat, tetapi mulai berpengaruh terhadap kegiatan pendidikan, khususnya bagi anak-anak yang rentan terhadap paparan asap.

Kesehatan dan keselamatan anak kini menjadi pertimbangan utama, sementara proses pembelajaran tetap diupayakan berjalan sesuai kondisi di lapangan. (Papuapos Nabire)