PM-AAS Dorong Produktivitas dan Regenerasi Petani di Nabire
Wakil Bupati Nabire, H. Burhanuddin Pawennari, saat meninjau langsung penanaman padi mengatakan, penerapan teknologi pertanian modern diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

NABIRE - Pemerintah Kabupaten Nabire mendukung Gerakan Percepatan Tanam Padi Perdana melalui program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) menuju 600 hektare di Provinsi Papua Tengah. Kegiatan tersebut dipusatkan di Kelurahan SP 1 Bumi Raya, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Rabu (30/9/2026).
Wakil Bupati Nabire, H. Burhanuddin Pawennari, saat meninjau langsung penanaman padi mengatakan, penerapan teknologi pertanian modern diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Menurut Burhanuddin, PM-AAS menawarkan pola tanam yang berbeda dari praktik pertanian yang selama ini dilakukan masyarakat. Penanaman padi menggunakan drum seeder atau metode tanam benih langsung (Tabela) pada kondisi lahan macak-macak, dengan jarak tanam sekitar tiga sentimeter dalam barisan.
“Dengan teknologi ini kita berharap produktivitas lahan bisa meningkat. Lahan yang sebelumnya menghasilkan tanaman dalam jumlah terbatas dapat memberikan hasil yang lebih optimal,” ujarnya.
Ia mengatakan, kondisi musim panas yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir turut memengaruhi aktivitas pertanian di Nabire. Karena itu, PM-AAS diharapkan menjadi salah satu upaya meningkatkan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Dalam program tersebut, Nabire mendapat alokasi 500 hektare, sedangkan Kabupaten Mimika 100 hektare. Dengan demikian, total sasaran percepatan tanam di Papua Tengah mencapai 600 hektare.
Selain produktivitas, Burhanuddin menyoroti persoalan regenerasi petani. Menurutnya, semakin banyak generasi muda yang memilih bekerja di luar sektor pertanian setelah menyelesaikan pendidikan.
Kondisi itu perlahan menyebabkan tenaga kerja di sektor pertanian berkurang. Sementara para orang tua yang selama ini mengelola sawah semakin lanjut usia, sedangkan anak-anak mereka memilih menekuni pekerjaan di sektor lain.
Menurut Burhanuddin, pilihan tersebut tidak sepenuhnya terlepas dari keinginan keluarga petani agar anak-anak mereka memiliki kehidupan yang lebih baik.
Namun, ia menilai sektor pertanian tetap memiliki masa depan apabila dikelola dengan teknologi modern, produktivitas yang baik serta mampu memberikan pendapatan yang layak.
Karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan PM-AAS sebagai momentum untuk mengembangkan pertanian Nabire sekaligus membuka kembali peluang bagi generasi muda melihat sektor pertanian sebagai pilihan pekerjaan dan usaha.
“Pertanian harus kita dorong menjadi sektor yang menarik bagi generasi muda. Dengan teknologi modern, pekerjaan petani tidak lagi hanya mengandalkan cara-cara lama, tetapi dapat dikelola secara lebih efektif dan produktif,” katanya. (amd)
Bagikan artikel ini



