Peta
Mama Ajengan Sanusi adalah sosok yang seringkali menjadi sumber kebijakaanaan.

Cerpen : Pace Munib
Senja memancarkan cahaya emas yang menerpa hamparan daun tebu di belakang kobong-kobong pesantren. Sudah enam tahun berjalan dia menjadi santri di pondok itu. Menjalani tradisi keluarganya sejak dulu. Yang meyakini bahwa setiap generasi membutuhkan gemblengan fisik dan jiwa. Dan itu hanya ada di pesantren yang dipimpin oleh sosok yang sudah selesai dengan dirinya. Disitulah Waskur ditempa sebagai seorang santri. Kenangan pesantren memberi sesuatu yang berarti buat Waskur.
Mama Ajengan Sanusi adalah sosok yang seringkali menjadi sumber kebijakaanaan. Yang memancar melalui segala tindakan dan ucapannya. Pola pikirnya luas membuat para santri betah menimba ilmu dan menduplikasi karakter guru yang linuhung itu.
"Sebuah peta dalam dirimu. Temukan itu. Kau akan diarahkan olehnya kemana sesungguhnya tujuan terlayak untuk langkah kakimu menuju kesana, " kata Mama Ajengan disela mengajarkan isi Kitab Taklimul Muta'alim.
Mengutip sebuah ayat dalam surah Maryam, Mama Ajengan menjelaskan bahwa setiap orang dari kita akan datang menghadap Allah secara sendiri-sendiri. Mempertanggung-jawabkan amanat akal rasional.
"Kita adalah Sang Rasional. Dilahirkan dalam kategori makhluk berakal. Menjadi manusia. Dia yang diberi kemerdekaan dan dimintai tanggung-jawab. Setelah bisa mengetahui siapa diri kita yang sesungguhnya, kita perlu tahu pola permainannya. Perlu tahu tujuan atau andgame-nya. Untuk itu kita harus tahu petanya. Untuk apa ? Supaya tidak tersesat." Demikian Mama Ajengan panjang lebar mengupas perkara-perkara pokok yang harus diketahui sebagai dasar yang perlu diketahui dan diresapi oleh para santri.
**
Waskur sering merenungkan kata Peta yang dahulu sering disebut oleh Mama Ajengan. Peta dalam diri ? Puluhan tahun silam masih terbayang ketulusan sosok gurunya. Disela kesibukan Waskur menjadi direktur di koran daerah, dia sering merenungkan peta. Di ruang kerjanya banyak peta jalan berupa capaian dan rencana perusahaan yang telah dia petakan secara struktur dan bagan. Tapi bukan peta itu yang terus ia renungkan. Melainkan peta yang sering membuatnya menghayati. Peta dalam diri yang diamanatkan oleh Mama Ajengan di pesantren dulu.
Dari kitab tashawuf Irfan, Waskur diberi teori peta perjalanan suluk seperti pendaki lereng gunung yang licin penuh rintangan. Tergambar disana dirinya sedang melakukan perjalanan jiwanya. Berat tubuhnya, gravitasi dan pikirannya yang masih sengkarut membuat perjalanan itu terasa berat. Di dalam dirinya masih bercokol sosok raksasa atau Butha yang terus membangun keakuan. Waskur tahu bahwa ia tak bisa membunuh raksasa itu, karena itu sudah menjadi bagian jiwanya. Yang memungkinkan hanya berupaya mengkerdilkannya. Menjadi raksasa cebol yang terkendali oleh dominasi hikmat kebijaksanaan yang bersumber dari penyaksian ilmu ilahi.
Waskur juga dipandu olah catatan ilahiah tentang percakapan Alastu dalam Surah Al A'raf, ketika Allah bertanya padanya : Bukankah aku ini Tuhanmu ? Dan kita saat itu menjawab : Ya memang begitu lah kebenarannya bahwa Tuhan adalah Rabb kami, kami bersaksi. Ini terhitung oleh Waskur sebagai syahadat mula-mula.
Dimensi jaman Alastu adalah bagian kecil dari semesta metafisika, jauh sebelum pra sejarah. Waskur memulai tarikan pensil di kanvasnya dari titik itu membuat peta dalam dirinya. Peta terjauhnya dimulai dari pernyataan tauhid kesaksian pertama.
*
Terlahir dari keluarga santri dirasakannya sebagai salah satu karunia Allah. Modal pertama. Meski dalam dirinya punya catatan tersendiri mengenai perlunya perbaikan-perbaikan yang harus diupayakan dalam dunia pesantren. Pesantren tidak boleh jauh dari sains dan jangan melupakannya.
Ketika Waskur dewasa diucapkannya dua kalimat syahadat. Katanya sejak itu ia resmi menjadi muslim. Tapi ia tak betul-betul memahami secara paripurna apa itu Islam ? Bagaimana dan harus melakukan apa saja ketika ia telah jadi muslim.
Sampai kemudian Waskur kini masih terus dengan sangat tekun berusaha menemukan peta yang ada dalam dirinya sendiri. Seperti pernah dianjurkan dulu oleh Mama Ajengan Sanusi. Disela proses ini sering kali terpotong oleh ketukan pintu anak buahnya yang hendak menyampaikan laporan rutin perihal perusahaan yang dipimpinnya. Di puncak pendakian Waskur harus menemukan kesaksian paripurna bahwa realitas itu sesungguhnya Tunggal. Sementara
dirinya tak lain Sang Kebergantungan Mutlak. Atau Sang Fakir Ekstrem.
**
Waskur menapaki perjalanan di dunia tafakur dan tazabur. Ia mencoba melihat peta pada titik. Ada apa dalam sebuah titik. Dapatkah ia dibelah lagi seperti atom. Titik di dalam titik. Membayangkannya seperti memasuki lorong tiada ujung yang memasuki gerbang rahasia. Dia andaikan titik itu adalah jiwanya. Sesuatu yang memiliki makna universal sekaligus khusus.
Selanjutnya ia mencoba keluar dari dalam titik itu. Imajinasinya melangkah mengikuti garis. Disitu ketemu petanya sendiri. Garis horizontal. Garis vertikal dan garis memanjat. Sebagai makhluk fisika dia temukan dirinya tak ubahnya dabbah atau binatang melata yang berjalan merayap dibumi. Seperti seekor ular merayap di garis horizontal bumi.
Tapi ruh yang tertiup telah menjadi bagian jiwanya yang tak berasal dari fisika. Ia datang dari arah sana, arah jauh garis vertikal. Dari langit yang diatas langit-langit. Peta yang terbentang pada garis memanjat, itu peta perjalanan jatuh bangun perjuangan jiwa menyudahi adu dominasi antara naluri fisika dan kebijaksanaan metafisika.
Antara buta yang mendekat pada dirinya dan hikmat kesaksian yang menuntunnya.
Ketika garis itu bergerak dari titik Mekah menuju Madinah, tercipta peta bidang baru. Wilayah geografi. Seperti bidang datar diatas kulit benda-benda langit yang bulat. Bidang diatas planet bumi sebenarnya hanya bidang imajinatif. Seolah-olah ada bidang yang datar. Padahal tak persis demikian. Bidang itu seperti bungkus bola.
Peta dalam ruang adalah galaksi semesta. Volume maha besar yang tak perikan keluasan batasnya. Ruang itu membuat bentuk-bentuknya sendiri dalam irama hukum alam. Waskur menemukan dirinya hanya bentuk titik amat kecil dalam semesta fisikal. Dari peta alam dalam dirinya kemudian ia sadar bahwa dirinya mengenakan pakaian waktu. Ia hanya sebentar saja disini. Sebab waktu adalah dimensi materi yang menyertai ruang. Dikirim dari dimensi keabadian untuk mengingatkan kesementaraan. Maka disini semuanya menjadi berwaktu.
Namun karena kesempurnaan Allah itu kekal, maka luberannya pun terus melimpah. Silih berganti. Gelembung-gelembung Sunatullah. Dan hamba yang baik akan menjadi para pewaris dari limpahan itu. Sementara waktu tetap menjadi pedang Batara Kala yang senantiasa memenggal apapun di dunia ini.
**
Waskur kembali menjumpai raksasa dalam dirinya yang masih ia penjarakan agar tak melakukan kezaliman. Agar tak mengerjakan apa-apa yang dilarang oleh Allah. Raksasa itulah sumber kelengketan jiwanya dengan dunia dan isinya. Namun untuk kembali di sisi Nya, ia sadar. Pada sisi yang mana dalam radius kelayakan capaian sendiri di kehidupan Maecapada Dunia ini ia telah menanam. Waskur sadar bahwa si raksasa cebol itu juga akan menikmati pahala yang dijanjikan Tuhannya.
**
Setelah Waskur tahu bahwa isi kitab suci itu 99 persen adalah metafisika. Dia cenderung kepada kitab-kitab teori metafisika. Begitupun Pancasila sebagai dasar kesepakatan berbangsa penuh muatan metafisika.
"Terlalu naif sebagai pemegang kitab suci dan sebagai bangsa Indonesia, tidak mengetahui teori metafisika. " Gumam Waskur dalam pencarian peta dalam dirinya.
Di puncak pendakiannya Waskur menyaksikan sebuah kerajaan Matefisika Agung. Semesta kita yang terdiri dari jutaan galaksi itu hanya permukaan kulit luar saja. Sedangkan semesta metafisika dia lebih besar dan kokoh, meskipun tak bisa dijangkau panca indera
Realitas metafisika itu ternyata berlevel-level. Juga berdimensi-dimensi. Begitupun makhluk-makhluk Tuhan yang astral. Berbagai macam jenisnya. Mereka adalah rakyat dengan satu gerak ketaatan pada Tuhannya di Kerajaan metafisika.
Yang mengherankan Waskur adalah ketika menemukan jiwanya juga mengandung metafisika. Ia hampir tersungkur ketika kebahagiaannya, kesedihannya, angan-angan yang pernah ia bayangkan, imajinasinya, perasaannya tampil dalam arketip yang nyata. Dan level-level akal juga terbentang seperti tangga naik.
"Mahiatun Nur, " bibir Waskur tak terasa berucap. Kata-kata itu pernah ia dengar dari Mama Ajengan ketika membuat penggambaran atas Wajibul Wujud yang memberikan anugerah luberannya kepada mumkinul wujud.
**
Besoknya Waskur ke kantor seperti biasa. Mengedit berita pasar yang dipalang. Ia teringat saat Nabi juga jalan-jalan di pasar. Hidup di tengah masyarakat, seperti masyarakat pada umumnya dan mudah dijangkau oleh masyarakat.
Jalan yang terbentang di depan langkah Waskur adalah Jalan Konsistensi. Melihat Kalender di ruang kerjanya ia teringat bulan Haul Mama Ajengan. Ia melingkari salah satu angka tanggal.
"Ingatkan saya kalau lupa. Ditanggal itu saya akan ziarah ke Banten." Sekretarisnya mencatat apa yang dipesankannya.
***
Bagikan artikel ini



