NABIRE - Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire menilai kegiatan belajar dari rumah yang dilaksanakan secara online hingga saat ini dinilai belum berjalan secara maksimal. 

Hal ini disebabkan tiga hal, yakni banyak orang tua yang hingga saat ini belum memiliki HP Android, jaringan internet yang kurang baik atau bagus dan juga biaya pembelian pulsa data dapat dikeluhkan oleh orang tua murid.

Sehingga untuk menyukseskan program belajar dari rumah dimasa pandemi Covid-19 ini dibuatkan tiga program  untuk sementara waktu, yakni belajar online, belajar manual dan belajar lewat RRI Nabire pada program Ibu Pertiwi memanggil.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire Yulianus Pasang, S.Pd.,M.Pd kepada Papuapos Nabire, Selasa (21/7) di ruang kerjanya seraya menambahkan, hingga saat ini dari program belajar dari rumah dengan menggunakan HP android baru mencapai 30%, sementara 70 persennya gagal.

Sehingga hingga diupayakan dari program belajar manual dari rumah, guru hanya dapat menyiapkan rangkuman, contoh soal dan memberikan tugas–tugas yang harus diisi oleh anak atau peserta didik dengan pendampingan orang tua murid.

Untuk itu, dengan adanya program manual belajar dari rumah diharapkan menjadi perhatian bersama, dimana kita harus saling bahu membahu untuk proses belajar di rumah antara keluarga dan seluruh masyarakat dan terlebih khusus kepala sekolah dan dewan guru.

Dengan demikian diharapkan kepada kepala sekolah dan bapak/ibu guru untuk dapat memfasilitasi jalannya proses pembelajaran di rumah, sehingga kepada para kepala sekolah dan dewan guru diminta setiap hari harus hadir di sekolah guna menyiapkan materi untuk disampaikan secara online maupun secara manual kepada peserta didik.

Karena melalui program belajar dari rumah secara online maupun belajar secara manual ini akan dimonitoring secara langsung oleh para pengawas, kepala bidang, sekertaris dan juga kepala dinas, dimana pihak dinas akan memeriksa semua hasil kerja para kepala sekolah dan juga dewan guru.(des)